Assalamualaikum wr.wb
Apa kabar agan-agan pengunjung?
Saya sudah lama tidak posting artikel di blog saya. Karena sibuk dengan pelajaran sekolah. Untuk kali ini saya punya waktu senggang untuk memposting Cerpen karya saya yang saya kirim ke Koran tapi belum di dimuat dikorannya. Silahkan dibaca dan dinilai ya..
Berikut Cerpennya :
Pekerjaan
Tersulit
Oleh
: Muhammad Halqi Adiatno
Aku tengah mengerjakan
tugas dari sekolah di kamarku. Tugas kali ini memang cukup sulit dan banyak
memakan waktu. Dari tadi pagi sampai siang, tak kunjung selesai tugasku ini.
Tapi aku tidak mau menyerah karena tugas ini harus dikumpulkan di sekolah besok.
Banyak teman-temanku yang enggan mengerjakan tugas yang satu ini karena mereka beranggapan tidak mungkin diperiksa,
ditambah lagi gurunya kan baik dan lembut.
Tepat pada menjelang
sore hari tugasku sedikit lagi selesai, Akan tetapi aku kehabisan tinta pulpen
dan juga aku tidak punya pensil. Aku coba meminjam kepada adikku yang bernama
Fidzqi, “Qi, kamu punya pulpen atau pensil tidak?” adikku menjawab, “Tidak
punya mas..,”. Aku langsung kembali keruanganku, untuk mengambil uang, seketika
itu tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil, ku bergegas menuju pintu kamar
mandi, tapi ternyata ada ayah sedang mandi. Dia mandi lama... sekali, karena
aku sudah tidak tahan, aku langsung pergi keluar rumah mencari masjid hanya
untuk buang air kecil, aku tidak malu karena aku rajin ke masjid. Ada banyak
masjid di perumahanku, ku kunjungi masjid terdekat dahulu, sialnya pintu kamar
mandinya dikunci. Sedangkan di rumah..., ibu bertanya pada adikku, “Mas Ridho
kemana ya? Adikku menjawab, ”Dia pergi keluar mencari kamar kecil” lalu ayah
tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan berkata pada ibu, “Anak itu tidak sabar
sih, pakai harus pergi keluar segala” Ternyata ayah sudah keluar selagi aku
diluar. Berlari lagi aku ke masjid yang lain, tanpa memikirkan kalau aku sudah
jauh dari rumah. Kali ini aku sial lagi, di dalam kamar mandi masjid yang satu
ini, sedang ada orang buang air besar, aku berpikir pasti lama.
Aku sudah sangat tidak
tahan, diriku berpikir.., kalau buang air sembarangan itu tidak sehat dan kalau
mencari masjid lagi, belum tentu kamar mandinya kosong atau tidak dikunci.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, Kenapa aku tidak numpang buang air saja kerumah
teman? Itu kan lebih mudah dan tidak banyak makan waktu. Aduh.. aku ini
benar-benar ceroboh, tidak memikirkan dulu hal paling mudah. Untung kebetulan
ada temanku yang lewat, dia bernama Cahyo, “Yo, ke sini sebentar..!” Teriakku.
“Ada apa Dho?” tanya Cahyo. “Begini, boleh tidak aku numpang buang air
dirumahmu?” Cahyo menjawab, “Boleh, ayo kita kerumahku”. Untung ada Cahyo, jadi
aku bisa buang air. Sudah hampir setengah jam sejak aku pergi dari rumah. Aku
langsung pulang saja kerumah takut orang tuaku khawatir kepadaku, ternyata
mereka berdua sedang tidak ada termasuk adikku yang pertama. Aku kembali ke
kamarku, dan kutemukan secarik kertas bertuliskan, “..Dho, ayah, ibu, dan
Fidzqi pergi dulu ke pasar, kebetulan adikmu Rayyi sedang tidur jadi ibu tidak
membawanya. Tolong jaga adikmu ya..”. Setelah kubaca aku langsung membuka pintu
kamarku terdapat adikku sedang tidur, aku langsung kembali menuju tugasku yang
sedang kukerjakan. Dasar pelupa aku ini, aku belum Membeli pensil atau pulpen
untuk melanjutkan pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi, hanya tinggal beberapa
kalimat saja. Karena adik sedang tidur, tidak mungkin aku meninggalkannya di
rumah sendirian, apalagi kalau sampai aku pergi dan saat aku pergi, ayah dan
ibu sudah pulang. Pasti aku akan dimarahi.
Aku sudah sangat
bingung, mau bagaimana lagi. Keluar rumah takut dimarahi, kalau diam saja
tugasku tidak akan selesai. Matahari sudah mulai terbenam dan orang tuaku belum
juga pulang, aku mencoba mencari-cari alat tulis di kamar ayahku. Barangkali
ada alat tulis yang masih bisa dipakai. Kubuka semua lemari yang ada dikamar
ayahku, ternyata ada satu lemari yang berisi banyak buku, dan alat tulis bekas.
Tetapi, sulit juga mengambilnya, ketika aku mencoba mengambilnya buku-buku
langsung jatuh dan cukup berisik, tetapi untung adikku tidak bangun, karena
biasanya kalau bangun dia pasti menangis. Kurapihkan lagi semuanya ke dalam lemari,
kecuali alat tulisnya. Karena kebetulan disitu ada secarik kertas kosong. Aku
langsung mencoba satu persatu kumpulan pulpen milik ayah itu, saat kucoba, ada
yang awalnya masih ada tintanya tapi setelah ditulis beberapa kali ternyata
habis. Ada lagi yang benar-benar habis, hampir semua pulpen ayah sudah habis.
Akhirnya aku menemukan satu pulpen yang masih terisi penuh tintanya. Aku
langsung bersorak girang dalam hati. Kusimpan kembali kumpulan pulpen ke dalam
lemari, kulihat jendela kalau diluar sudah gelap. Kunyalakan lampu-lampu yang
ada di rumahku, aku heran kenapa ayah dan ibu pergi lama sekali. Tanpa berpikir
panjang aku langsung menuju kamarku, Aku langsung kaget dan terbaring lemas.
Karena tugasku yang telah kukerjakan sejak pagi hari, telah disobek-sobek oleh
adikku yang masih kecil itu.
Aku tidak marah kepada
adikku karena dia masih kecil, hanya saja aku menangis yang tak kunjung
berhenti. Padahal aku sudah berumur lima belas tahun, adikku diam saja tidak
peduli terhadapku, malah dia terus merobek-robek tugasku. Ketika itu orang
tuaku sudah pulang dan mendapati aku sedang menangis, ibu langsung berkata,
“Mas.. kamu jaga dulu rumah sampai besok ya.., sekarang ayah sama ibu mau
menginap dulu di rumah bibi, jadi jaga rumah baik-baik, sudah berhenti menangisnya
ya” sambil membawa adikku dan menutup pintu rumah tanpa mempedulikan aku. Hari
ini nasibku sedang sial, semuanya berawal dari buang air dan kecerobohanku.
Setelah mengalami hal ini, aku tidak akan ceroboh dalam bertindak dan selalu
berpikir matang terlebih dahulu sebelum mengerjakan sesuatu. Ini adalah
pekerjaan tersulit yang pernah kukerjakan.
-TAMAT-
Mohon Kritik dan sarannya ya agan pembaca..
Wassalamualaikum wr.wb













