Minggu, 02 Agustus 2015

Cerpen - Pekerjaan Tersulit

Bismillahirrahmannirrahim,
Assalamualaikum wr.wb

Apa kabar agan-agan pengunjung?
Saya sudah lama tidak posting artikel di blog saya. Karena sibuk dengan pelajaran sekolah. Untuk kali ini saya punya waktu senggang untuk memposting Cerpen karya saya yang saya kirim ke Koran tapi belum di dimuat dikorannya. Silahkan dibaca dan dinilai ya..

Berikut Cerpennya :



Pekerjaan Tersulit
Oleh : Muhammad Halqi Adiatno
Aku tengah mengerjakan tugas dari sekolah di kamarku. Tugas kali ini memang cukup sulit dan banyak memakan waktu. Dari tadi pagi sampai siang, tak kunjung selesai tugasku ini. Tapi aku tidak mau menyerah karena tugas ini harus dikumpulkan di sekolah besok. Banyak teman-temanku yang enggan mengerjakan tugas yang satu ini karena  mereka beranggapan tidak mungkin diperiksa, ditambah lagi gurunya kan baik dan lembut.
Tepat pada menjelang sore hari tugasku sedikit lagi selesai, Akan tetapi aku kehabisan tinta pulpen dan juga aku tidak punya pensil. Aku coba meminjam kepada adikku yang bernama Fidzqi, “Qi, kamu punya pulpen atau pensil tidak?” adikku menjawab, “Tidak punya mas..,”. Aku langsung kembali keruanganku, untuk mengambil uang, seketika itu tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil, ku bergegas menuju pintu kamar mandi, tapi ternyata ada ayah sedang mandi. Dia mandi lama... sekali, karena aku sudah tidak tahan, aku langsung pergi keluar rumah mencari masjid hanya untuk buang air kecil, aku tidak malu karena aku rajin ke masjid. Ada banyak masjid di perumahanku, ku kunjungi masjid terdekat dahulu, sialnya pintu kamar mandinya dikunci. Sedangkan di rumah..., ibu bertanya pada adikku, “Mas Ridho kemana ya? Adikku menjawab, ”Dia pergi keluar mencari kamar kecil” lalu ayah tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan berkata pada ibu, “Anak itu tidak sabar sih, pakai harus pergi keluar segala” Ternyata ayah sudah keluar selagi aku diluar. Berlari lagi aku ke masjid yang lain, tanpa memikirkan kalau aku sudah jauh dari rumah. Kali ini aku sial lagi, di dalam kamar mandi masjid yang satu ini, sedang ada orang buang air besar, aku berpikir pasti lama.
Aku sudah sangat tidak tahan, diriku berpikir.., kalau buang air sembarangan itu tidak sehat dan kalau mencari masjid lagi, belum tentu kamar mandinya kosong atau tidak dikunci. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, Kenapa aku tidak numpang buang air saja kerumah teman? Itu kan lebih mudah dan tidak banyak makan waktu. Aduh.. aku ini benar-benar ceroboh, tidak memikirkan dulu hal paling mudah. Untung kebetulan ada temanku yang lewat, dia bernama Cahyo, “Yo, ke sini sebentar..!” Teriakku. “Ada apa Dho?” tanya Cahyo. “Begini, boleh tidak aku numpang buang air dirumahmu?” Cahyo menjawab, “Boleh, ayo kita kerumahku”. Untung ada Cahyo, jadi aku bisa buang air. Sudah hampir setengah jam sejak aku pergi dari rumah. Aku langsung pulang saja kerumah takut orang tuaku khawatir kepadaku, ternyata mereka berdua sedang tidak ada termasuk adikku yang pertama. Aku kembali ke kamarku, dan kutemukan secarik kertas bertuliskan, “..Dho, ayah, ibu, dan Fidzqi pergi dulu ke pasar, kebetulan adikmu Rayyi sedang tidur jadi ibu tidak membawanya. Tolong jaga adikmu ya..”. Setelah kubaca aku langsung membuka pintu kamarku terdapat adikku sedang tidur, aku langsung kembali menuju tugasku yang sedang kukerjakan. Dasar pelupa aku ini, aku belum Membeli pensil atau pulpen untuk melanjutkan pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi, hanya tinggal beberapa kalimat saja. Karena adik sedang tidur, tidak mungkin aku meninggalkannya di rumah sendirian, apalagi kalau sampai aku pergi dan saat aku pergi, ayah dan ibu sudah pulang. Pasti aku akan dimarahi.
Aku sudah sangat bingung, mau bagaimana lagi. Keluar rumah takut dimarahi, kalau diam saja tugasku tidak akan selesai. Matahari sudah mulai terbenam dan orang tuaku belum juga pulang, aku mencoba mencari-cari alat tulis di kamar ayahku. Barangkali ada alat tulis yang masih bisa dipakai. Kubuka semua lemari yang ada dikamar ayahku, ternyata ada satu lemari yang berisi banyak buku, dan alat tulis bekas. Tetapi, sulit juga mengambilnya, ketika aku mencoba mengambilnya buku-buku langsung jatuh dan cukup berisik, tetapi untung adikku tidak bangun, karena biasanya kalau bangun dia pasti menangis. Kurapihkan lagi semuanya ke dalam lemari, kecuali alat tulisnya. Karena kebetulan disitu ada secarik kertas kosong. Aku langsung mencoba satu persatu kumpulan pulpen milik ayah itu, saat kucoba, ada yang awalnya masih ada tintanya tapi setelah ditulis beberapa kali ternyata habis. Ada lagi yang benar-benar habis, hampir semua pulpen ayah sudah habis. Akhirnya aku menemukan satu pulpen yang masih terisi penuh tintanya. Aku langsung bersorak girang dalam hati. Kusimpan kembali kumpulan pulpen ke dalam lemari, kulihat jendela kalau diluar sudah gelap. Kunyalakan lampu-lampu yang ada di rumahku, aku heran kenapa ayah dan ibu pergi lama sekali. Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju kamarku, Aku langsung kaget dan terbaring lemas. Karena tugasku yang telah kukerjakan sejak pagi hari, telah disobek-sobek oleh adikku yang masih kecil itu.
Aku tidak marah kepada adikku karena dia masih kecil, hanya saja aku menangis yang tak kunjung berhenti. Padahal aku sudah berumur lima belas tahun, adikku diam saja tidak peduli terhadapku, malah dia terus merobek-robek tugasku. Ketika itu orang tuaku sudah pulang dan mendapati aku sedang menangis, ibu langsung berkata, “Mas.. kamu jaga dulu rumah sampai besok ya.., sekarang ayah sama ibu mau menginap dulu di rumah bibi, jadi jaga rumah baik-baik, sudah berhenti menangisnya ya” sambil membawa adikku dan menutup pintu rumah tanpa mempedulikan aku. Hari ini nasibku sedang sial, semuanya berawal dari buang air dan kecerobohanku. Setelah mengalami hal ini, aku tidak akan ceroboh dalam bertindak dan selalu berpikir matang terlebih dahulu sebelum mengerjakan sesuatu. Ini adalah pekerjaan tersulit yang pernah kukerjakan.
-TAMAT-

Mohon Kritik dan sarannya ya agan pembaca..
Wassalamualaikum wr.wb